Aditya
Ramadhan
Mahasiswa
S1 Psikologi UIN Malang
ADHD
(attention deficit hyperactif disorder), merupakan gangguan dimana
seseorang (anak) cenderung kurang perhatian, impulsif dan hiperaktivitas. ADHD
merupakan salah satu gangguan yang paling sering dialami oleh anak-anak
(Elmaghraby & Garayalde, 2022). Prevalensi
global untuk anak usia sekolah dasar (di bawah usia 12 tahun) yang mengalami
ADHD mencakup 7,6% dari total populasi
(Salari, 2023).
DSM
V, secara spesifik menyebutkan beberapa gejala yang mengindikasikan anak
mengalami ADHD. Ketiga gejala tersebut meliputi, kurangnya perhatian (inattention),
implusif dan hiperaktifitas.
Inattention (kurangnya Perhatian) dicirikan dengan sering gagal dalam
memberikan perhatian terhadap detail tugas atau melakukan kecerobohan terhadap
tugas-tugasnya di sekolah maupun rumah. Anak seringkali tidak memperhatikan
instruksi atau apa yang dikatakan orang lain secara langsung.
Anak ADHD sering mengalami kesulitan untuk
mengorganisasikan tugas dan aktivitasnya bahkan sering menghindari atau tidak
menyukai (enggan terlibat) dalam sebuah permainan atau pekerjaan yang
membutuhkan usaha mental. Anak ADHD juga mudah terganggu oleh stimulus yang
datang dari luar.
Impulsif dicirikan dengan anak tersebut sering mengalami
kesulitan dalam melakukan aktivitas menunggu. Sering menjawab sebuah pertanyaan
sebelum selesai disampaikan atau dibacakan. Anak ADHD juga sering mengganggu
atau menyela sesuatu dari apa yang dilakukan orang lain.
Hiperaktif dicirikan dengan sering bertingkah seenaknya
(berprilaku seakan-akan tidak mampu mengendalikan gerak motorik mereka). Sering
gelisah atau tidak bisa diam ketika duduk di kursi sekolah, sering meninggalkan
tempat duduk dan sering berlari-lari sekalipun pada situasi yang tidak
memperbolehkan mereka melakukan perilaku tersebut.
Perlu digaris bawahi bahwa seseorang anak dapat
diindikasi ADHD harus menunjukkan gejala-gejala seperti diatas setidaknya dalam
kurun waktu enam bulan. Gejala tersebut setidaknya muncul pada usia kurang dari
12 tahun, yang dimana gejala tersebut setidaknya muncul pada seting lingkungan
yang berbeda seperti di sekolah maupun rumah (Kristiana, 2021).
Tentunya hal tersebut harus diawasi dan ditindak lanjuti oleh tenaga
ahli seperti psikolog atau psikiater. Hal ini menjadi penghambat bagi pertumbuhan seorang anak
yang mengalami ADHD, akibatnya perkembangan dan pertumbuhannya menjadi tidak
sesuai dengan tingkat pertumbuhan usia normal (Eva, 2015)
Adapun beberapa bentuk permainan bagi anak ADHD yang
bertujuan untuk menyalurkan energi positif sekaligus melatih fokus
konsentrasinya. Permainan sensori motorik merupakan sebuah bentuk intervensi
yang dikembangkan oleh Jean Ayres. Permainan sensori motori prosesnya
melibatkan pengolahan informasi yang diterima otak dan selanjutnya otak akan
mengintegrasikan seluruh informasi melalui sensor-sensor tubuh sehingga
individu dapat menjalankan fungsi motoriknya secara optimal (Azkiya, 2021).
Bermain bowling umumnya dilakukan dengan menggelindingkan
bola sejauh tiga meter untuk merobohkan sejumlah pin bowling yang berdiri
tegak. Akan tetapi permainan ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi
pemain, seperti menggunakan bola biasa dengan bentuk pin (kaleng). Dalam
penelitian yang dilakukan Amirul Amin (2012) menunjukkan hasil yang baik dimana
permainan ini dapat meningkatkan kemampuan koordinasi gerak mata dan tangan
pada anak ADHD serta melatih fokusnya.
Permainan menangkap bola dapat dilakukan dengan dua
orang, subjek dan terapis (terapis dapat digantikan dengan guru atau orang
terdekatnya). Menangkap bola dan melempar bola dilakukan secara bergantian
antara keduanya.
Sedangkan bermain bola seperti badut dilakukan dengan
satu orang saja yaitu subjek. Subjek diminta untuk memainkan dua bola dengan
cara satu bola dilempar keatas kemudian ditangkap dan saat menangkap bola, bola
lainnya bergantian untuk dilempar ke atas, begitu seterusnya. Menurut
penelitian yang dilakukan Azkiya (2021)
permainan berbentuk bola tersebut dapat membantu melatih konsentrasi dan
fokus pada anak ADHD.
Bermain lotto, Lotto dapat disebut sebagai permainan yang
edukatif karena dapat dibongkar dan dipasang, berwarna dan bebagai macam
bentuknya (Dewi,
2015). Kelebihannya dalam bermain lotto yaitu menggunakan alat indra pengelihatan dan
pendengaran ketika bermain, dimana anak harus berkonsentrasi
dan mempersepsikan gambar suara
atau bunyi yang didengarkan ketika
mencari gambar (Yogawati, 2017).
Dalam penelitian yang dilakukan Sari (2021) penerapan terhadap anak ADHD
melalui permainan lotto ini dapat melatih dan meningkatkan kemampuan fokus
dalam konsentrasinya.
Permainan
mengalahkan waktu, Dalam permainan
ini terapis (terapis dapat digantikan dengan guru atau orang terdekatnya)
memberikan 10 chip poker kepada peserta, kemudian dalam waktu 10 menit peserta
harus membangun sebuah menara dengan balok, dan jangan menghentikan pembangunan
sampai peserta mendengar timer berbunyi.
Peserta tidak boleh terganggu terhadap stimulus dari
sekitar serta harus fokus pada tugasnya masing-masing. Apabila peserta
bertanya, terganggu gangguan dari luar (tidak fokus) atau melakukan hal-hal
lain selain membangun menara, maka peserta harus membayar satu chip kepada
terapis. Jika peserta dapat bertahan sela 10 menit, maka terapis akan
memberikan lagi 10 chip. Setelah peserta memiliki 50 cip, maka peserta dapat
memilih hadiah yang di inginkan yang sudah di sediakan di dalam box.
Terapis tetap tenang untuk beberapa menit pertama dan
kemudian menciptakan beberapa gangguan. Tujuan dari gangguan ini adalah untuk
mendapatkan anak agar tetap fokus pada tugasnya dan tidak memperdulikan apa
yang terjadi di dalam atau diluar ruangan. Anak akan sangat termotivasi untuk
mendapatkan 50 chip dan memilih hadiah.
Terapis harus meningkatkan waktu dengan 5 menit setiap
kali 50 chip hadiah dicapainya. Akhirnya, banyak peserta dapat tetap pada
tugasnya untuk seluruh sesi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hatiningsih
(2013) permainan mengalahkan waktu dapat meningkatkan kemampuan konsentrasi
pada anak ADHD.
Melalui penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
pentingnya permainan motorik dalam melatih kemampuan motorik anak ADHD. ADHD
yang ditandai oleh kurangnya perhatian, impulsif, dan hiperaktivitas, dapat
menghambat perkembangan anak. Permainan motorik seperti bowling, menangkap
bola, dan lotto terbukti efektif sebagai intervensi untuk meningkatkan
konsentrasi dan fokus anak-anak dengan ADHD. Permainan ini tidak hanya melatih
kemampuan motorik dan konsentrasi, tetapi juga menyediakan cara positif untuk
menyalurkan energi mereka.
Daftar Pustaka
Amin, M. A.
(2012). Meningkatkan kemampuan koordinasi gerak mata dan tangan melalui
permainan bowling adaptif pada anak adhd attention deficit hyperactive
disorder. Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus, 1(2),
248-259.
Azkiya, N.
R. (2021). Permainan sensori motorik untuk meningkatkan konsentrasi pada anak
dengan ADHD. Procedia: Studi Kasus Dan Intervensi Psikologi, 9(4),
119-126.
Dewi,
A. A. G.
I., Kristiantari, R.,
& Suara, M. I.
(2015). Penerapan Model Pembelajaran Think Pair
Sharae Berbantuan Media
lotto Warna dan Bentuk
untuk Meningkatkan
Perkembangan Kognitif Anak
Kelompok B3. E-Journal PG-Paud
Universitas Pendidikan Ganesha, 3(1).
Elmaghraby, R., & Garayalde, S.
(2022). What is ADHD? American Psychiatric Association.
Eva, N.
(2015). Psikologi anak berkebutuhan khusus. Malang: Fakultas Pendidikan
Psikologi Univeritas Negeri Malang, 1, 23.
Habib, A.,
Purnamawati, W., Octaviani, A., & Sumantri, M. S. (2019). EKSTRAKURIKULER
SENI MUSIK: MEMBENTUK KARAKTER BERKEBUTUHAN KHUSUS?. Metodik Didaktik:
Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 15(1).
Hatiningsih,
N. (2013). Play therapy untuk meningkatkan konsentrasi pada anak attention
deficit hyperactive disorder (ADHD). Jurnal ilmiah psikologi terapan, 1(2),
324-342.
Kristiana,
I. F., & Widayanti, C. G. (2021). Buku ajar psikologi anak berkebutuhan
khusus.
Salari, N., Ghasemi, H., Abdoli, N.,
Rahmani, A., Shiri, M. H., Hashemian, A. H., Akbari, H., & Mohammadi, M.
(2023). The global prevalence of ADHD in children and adolescents: A systematic
review and meta-analysis. Italian Journal of Pediatrics, 49(1), 48. https://doi.org/10.1186/s13052-023-
01456-1
Sari, L.
M., & Marlina, M. (2021). Efektivitas bermain lotto untuk meningkatkan
konsentrasi belajar bagi anak ADHD. Jurnal Basicedu, 5(1),
310-316.
Yogawati, R.
H. (2017). Bermain Lotto
(Tebak Suara) Terhadap
Konsentrasi Belajar Anak Autis
di Sekolah Dasar
Luar Biasa.
Jurnal Pendidikan Khusus, 9(4).
Aditya Ramadhan, penulis adalah mahasiswa S1 Psikologi UIN Malang. Adit menyelesaikan program magang dan pengabdian masyrakat di Biro Psikologi Hyui tahun 2024.